Senin, 25 April 2011

Negeri Saba
Oleh H. USEP ROMLI H.M.

SABA adalah nama sebuah bangsa dan negara yang tercantum dalam Alquran. Nama itu digunakan menjadi satu judul surat Alquran (surat 34). Berdiri dan berkembang kira-kira seribu tahun sebelum Masehi, sebagai negara subur makmur gemah ripah loh jinawi, seraya dinaungi ampunan Allah SWT. Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur (Q.S. Saba:15).

Kitab-kitab sejarah, di antaranya At-Tarikhul Qadim karya Muhammad Syafiq Ghirbal; Al-Ma'arikul Fashilah fi Tharik karya Hanna Kabbazz; dan kitab-kitab tafsir Alquran seperti Jami'ul Bayan karya Ibnu Jarir Ath-Thabari, Al-Baidhawi karya Nashiruddin Abil Khair Al-Baidhawi, Al-Kassyaf karya Az-Zamakhsyari, dll. melukiskan ciri-ciri kemakmuran Saba. Yaitu di kiri kanan jalan penuh kebun-kebun menghijau, dihiasi pohon-pohon berbuah lebat. Sehingga yang berjalan di seluruh negeri Saba tak pernah merasakan lelah, haus, dan lapar. Jika ingin makan, tinggal memetik aneka macam buah yang terdapat di sepanjang jalan. Maka sejauh apa pun perjalanan, selalu terasa dekat dan ringan.

Air juga tak kurang. Mengalir dan memancar di mana-mana. Air tersebut, bersumber dari bendungan Ma'arib. Sebuah bendungan besar yang mampu menampung curahan air hujan satu kali musim hujan, cukup untuk memenuhi kebutuhan selama dua tiga tahun musim kemarau.

Pendek kata, bangsa dan nageri Saba benar-benar lubak-libuk buncir leuit loba duit. Senang ngahenang ngahening. Walaupun pada awalnya, ketika mulai dibangun oleh Saba Abdusy Syam bin Yasyub, pertengahan abad 10 SM, masih berupa kawasan kecil dan terpencil di tengah padang gersang. Tapi dengan adanya bendungan Ma'arib (sadu Ma'arib), Saba mulai bangkit. Banyak orang dari mana-mana berimigrasi ke sana. Apalagi setelah salah seorang pemimpinnya Ratu Bilqis, memeluk Islam. Mengikuti ajaran Nabi Sulaiman alaihissalam. Kisah Ratu Saba pasrah sumerah menjadi Muslimah, tertera dalam Q.S. An-Naml:44 (Qalat Rabbi inni zalamtu nafsiy wa aslamtu ma'a Sulaimana lillahi Rabbil 'alamin. (Ya Allah, sesungguhnya aku sudah berbuat zalim pada diriku sendiri, dan aku mengikuti Sulaiman, berserah diri kepada Allah Semesta Alam).

Beratus tahun, bangsa dan negeri Saba menempuh kehidupan bahagia lahir batin. Aman tenteram sejahtera kertaraharja. Mereka punya jaminan kekuatan fisik-material berkat bendungan Ma'arib dan jaminan mental spiritual berupa ampunan Allah SWT. Dua jaminan ini benar-benar terwujud secara fungsional, selama bangsa dan negeri Saba tunduk patuh dan taat menjalankan perintah Allah, syukur nimat. Kulu min rizqi Rabbikum wa asyakurullahu (Q.S. Saba:15). Makanlah dari rizki Rabbmu dan syukurilah.

Hanya saja, suatu ketika, bangsa dan negeri Saba terkena penyakit kufur nikmat. Tak mau berterima kasih kepada segala realisasi anugrah Allah. Generasi-generasi baru bangsa Saba mulai membayangkan kenikmatan-kenikmatan lain yang muncu dari impian hawa nafsu. Mulailah timbul pertentangan dan benturan aspirasi.

Bendungan Ma'arib yang dulu terpelihara melalui sikap rukun dan gotong-royong, terabaikan, sebab penduduk Saba mejadi sibuk oleh berbagai kepentingan masing-masing. Sibuk mengumbar wacana, sibuk merekayasa rencana. Akhirnya menjadi kesatuan sikap menolak semua nikmat. Tidak lagi bersyukur, sebagaimana diwasiatkan para leluhur dan dipelihara turun-temurun.

Dan orang-orang yang dipercaya mengelola bendungan Ma'arib, tak lagi tekun bekerja. Malah banyak fasilitas umum yang disalahgunakan. Dikorupsi untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Kondisi bendungan Ma'arib tak lagi terperhatikan.

Belum lagi perilaku masyarakat luas yang merasa bosan oleh keadaan. Kebun-kebun penghias jalan dan sumber kemakmuran pangan, tiba-tiba dianggap gangguan memuakkan. Tak membuat betah. Tak memberi keleluasan bagi orang-orang yang suka menghabiskan waktu dalam hura-hura, karena terasa sempit. Maka banyaklah pohon-pohon ditebangi. Dijadikan taman-taman dan arena permainan yang dianggap akan membawa kegembiraan baru.

Keadaan semakin memuncak. Hingga mencapai titik kulminasi. Mencampakkan aturan Allah. Melalui bobolnya bendungan Ma'arib, Allah menimpakan azab banjir bandang. Kota Ma'arib musnah dalam sekejap. Kebun-kebun indah dan subur, berubah seketika menjadi hamparan tanah kering yang tak dapat ditumbuhi tanamam selain pohon-pohon berduri, berkulit pahit, dan tak berbuah. Yaitu sejenis pohon atsl (cemara) dan sidr (dadap liae).

Selain itu, rampok, garong, dan penjahat berdatangan menjarah pekampungan. Merampas sisa-sisa harta yang masih ada. Negeri Saba yang dulu sangat aman untuk berjalan, baik siang maupun malam, (siru fiha layaliya wa ayyaman aminan), berubah menjadi neraka menakutkan, yang di tiap pelosoknya berkeliaran para pembunuh, bajingan, dan preman siap menerkam. Negeri Saba benar-benar hancur lebur. (Q.S. Saba:16-21).

Kini, bangsa dan negeri Saba sudah musnah. Sudah masuk kategori Al-Arabul Baidah (keturunan bangsa Arab yang telah sirna). Bekas lokasinya menjadi negara Yaman, yang terpe­cah belah antara Yaman Utara yang komunis-sosialis, dan Yaman Selatan yang liberalis kapitalis. Baru pada tahun 1990, kedua negara bergabung menjadi Republik Yaman, yang oleh Amerika Serikat dituduh sebagai sarang teroris.

Kisah bangsa dan negeri Saba sangat baik untuk berkaca. Bahan mencermini diri. Mengapa kemajuan dan kemakmuran bangsa dan negara tersebut hancur berantakan? Apa penyebabnya? Berdasarkan data-data sejarah dan tafsir Alquran, kemajuan negara dan bangsa Saba dimulai oleh keimanan kepada Allah SWT yang dipelopori Ratu Balqis. Sejak itu, rakyat Saba meninggalkan kepercayaan kepada berhala-berhala dan sembahan buatan manusia lainnya, seperti harta, pangkat, jabatan, dll., yang mengandung kezaliman kepada diri pribadi (kebodohan moral dan intelektual), zalim kepada orang lain (mengajak kepada kejahilan dan kemaksiatan), dan zalim kepada Allah SWT (tidak menghargai nikmat anugerah akal dan pikiran untuk membedakan yang hak dan batil, yang halal dan haram).

Sejak mengikuti jejak Nabi Sulaiman, bangsa Saba meninggalkan pekerjaan yang mengandung unsur bohong, baik ucapan maupun tindakan. Bangsa Saba benar-benar jujur dalam berkata dan bekerja. Ditambah taat kepada Allah dan rasul-Nya, hingga mendapat ganjaran berupa peningkatan nilai amal, yang keunggulan dan kebagusannya mencakup semua bidang pekerjaan. Mereka juga selalu sukses dalam setiap bidang garapan. Hal itu sesuai dengan ketentuan Allah SWT (Q.S. Al-Ahzab:70-71).

Selama bangsa Saba berbicara benar dan menjalankan aturan Allah, mereka selalu mendapat kredit poin yang bagus untuk segala urusan, serta mendapat ampunan Allah (Rabbun Ghafur). Selama mereka taat kepada Allah dan rasul-Nya secara nyata (iman dan takwa), mereka mendapat peluang untuk meraih segala keberhasilan.

Tapi setelah segala faktor pengundang rahmat anugerah dan ampunan Allah tersebut ditinggalkan, mereka harus berhadapan dengan ancaman azab Allah yang tak akan dapat ditahan siapa pun. Termasuk oleh generasi keras kepala dan kesat hati, yang sombong dan angkuh, melakukan segala kerja kemaksiatan, baik dalam ucapan maupun tindakan.

Di tengah keadaan bangsa dan negara kita sekarang, yang serba salah, yang tak henti ditimpa kesulitan silih berganti (bencana alam, penyakit, krisis BBM, korupsi, dan banyak lagi) mungkin saja nasib akhir yang menimpa bangsa dan negeri Saba sudah berada di depan mata. Bedanya, bangsa dan negeri Saba pernah mencicipi posisi baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur, bangsa dan negara kita belum. Dari dulu hingga sekarang, hanya sengsara dan sengsara belaka, seraya tidak pernah mendapat ampunan Allah SWT.

Kesempatan memperbaiki kondisi, mungkin masih ada. Masalahnya, mau atau tidak?***